Negoisasi Gaji

Posted on Agustus 2, 2008. Filed under: Umum | Tag:, , , |

*Kenapa sih kita harus menegosiasikan gaji?*

Kenapa nggak langsung aja ditentuin oleh perusahaan?
Untuk menjawab ini, pertama-tama perlu gue jelasin dulu bahwa struktur gaji
di sebuah perusahaan biasanya ditentukan dalam range (rentang), dan
range-nya saling overlap satu dengan lainnya. Memang nggak semua perusahaan
menetapkan struktur gaji dalam range seperti ini, tapi sebagian besar sih
begitu.

Untuk jelaskan coba perhatiin tabel ilustrasi berikut:

*Level*

*Gaji*

I

900rb – 1.2 jt

II

1 jt – 1.5 jt

III

1.3 jt – 2.2 jt

…dst

Ada 2 keuntungan penetapan gaji dengan sistem range, ditinjau dari sudut
pandang perusahaan:

1. Memberikan ruang bagi pihak HRD perusahaan tersebut untuk merekrut
orang terbaik pada sebuah level. Untuk jelasnya coba simak contoh kasus sbb:

Sebuah perusahaan berniat merekrut si X yang saat ini udah bekerja di
perusahaan lain. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa X menerima gaji
1 juta di perusahaannya sekarang, dan berada di level I. X tentu menolak
saat diajak pindah dengan penawaran gaji sama yaitu 1 juta. Berkat sistem
gaji yang menggunakan range, maka perusahaan yang baru bisa memberikan
penawaran menarik sebesar 1.2 juta kepada X, tanpa harus memposisikannya di
level yang lebih tinggi (yang mana terkait dengan pemberian fasilitas /
tunjangan yang lebih besar pula).

1. Memungkinkan perusahaan untuk melakukan efisiensi pengeluaran gaji.
Ingat, perusahaan sebagai institusi ekonomis, pastinya mengutamakan prinsip
ekonomi pula: *pengeluaran sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil
sebesar-besarnya*

. Kalo seorang pegawai happy-happy aja dengan digaji
900 ribu, kenapa harus ngasih 1 juta? Ilustrasi berikut mungkin bisa
memperjelas:

Si Y adalah seorang pegawai lugu yang rela ngelembur tanpa banyak nuntut
uang tambahan. Di kantor sekarang ia menduduki level I dengan gaji 750 ribu.
Melihat fakta seperti ini, maka sambil sedikit bertanduk sang petugas HRD
perusahaan tetangga menyodorkan penawaran gaji 900 ribu kepada Y, yang
langsung diterima dengan penuh rasa syukur dan hati sumringah.

Nah, melihat kedua contoh di atas, jelas bahwa urusan negosiasi gaji bisa
sangat menentukan besaran gaji yang kita terima. Si X dan si Y sama-sama
menduduki posisi di level I, kerjaannya sama, tanggung jawab sama, tapi X
bisa mendapat gaji lebih besar dari Y hanya karena perbedaan dalam proses
negosiasi gaji!

Kesimpulannya: proses negosiasi gaji itu penting banget!

*Apa yang harus disiapkan sebelum menegosiasikan gaji?*

1. *Kenali pasaran
*Ini penting banget banget! Lo harus tau, untuk kualifikasi yang lo
punya sekarang ini, berapa range gaji yang berlaku. Dengan demikian lo bisa
mengajukan penawaran yang ‘pas’.
2. *Tetapkan standar yang rasional
*Ini juga nggak kalah penting. Standar ditetapkan berdasarkan kondisi
pribadi lo sekarang ini. Maksud gue gini:
Kalo saat ini lo lagi happy-happy aja di perusahaan tempat kerja lo,
trus dateng tawaran untuk pindah ke perusahaan lain, boleh lah lo jual mahal
dikit. Minta gaji yang rada2 di luar range. Dikasih sukur, enggak ya udah.
Tapi sebaliknya, kalo lo saat ini lagi nganggur, trus lo menolak
tawaran pekerjaan dengan gaji 1 juta hanya karena lo tau untuk kualifikasi
lo rangenya berkisar antara 1.2 – 1.5 juta, ya kurang bijaksana juga.
What i’m saying is, memang perlu untuk mengetahui harga pasaran lo berapa,
tapi jangan lantas terpaku dan terjebak dengan pasaran tersebut hingga
akhirnya mematikan potensi lo untuk berkembang, gitu loh.

*Faktor apa aja yang mempengaruhi standar gaji dari sebuah perusahaan?*

1. *Industri
*Beda industri, beda juga standar gajinya. Industri telekomunikasi,
pertambangan / perminyakan, konsultan, dan consumer goods adalah beberapa
industri yang standar gajinya relatif tinggi.
2. *Ukuran perusahaan
*Perusahaan multi-nasional biasanya punya standar gaji lebih tinggi
dari perusahaan lokal dari *bidang industri yang sama*. Tapi,
perusahaan2 kelas menengah biasanya masih belum punya standar gaji yang baku
– sehingga justru dengan perusahaan tipe ini lo bisa nodong gaji seenaknya
berdasarkan wangsit dan disetujui!
3. *Level / lingkup pekerjaan
*Gue sering menemukan, orang salah memperkirakan standar gaji
pekerjaan yang dilamar karena terkecoh dengan title / judul pekerjaannya.
Contoh kasus yang sering terjadi: lowongan pekerjaan dengan judul
mentereng “sales supervisor” membuat pelamar mengira pekerjaannya di tingkat
manajerial dan mengepalai sebuah tim, nyatanya harus kerja sendiri jualan
barang. Atau yang pernah gue temui di sebuah perusahaan milik pemerintah
daerah, terjadi kenaikan jabatan berkala secara otomatis – sehingga seorang
staff biasa setelah sekian tahun kerja harus jadi “kepala” sesuatu.
Akibatnya, struktur perusahaan tersebut mekar terus dari waktu ke waktu
karena bermunculan “kepala2” baru, dan banyak “kepala seksi” yang nggak
punya anak buah!
Title pekerjaan bisa mengecoh, “manager” di perusahaan yang satu bisa
saja selevel dengan seorang “supervisor” di perusahaan lain atau justru
seorang “vice president” di perusahaan lainnya – tergantung seberapa besar
beban kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Oleh karena itu, sebelum
bernegosiasi kenali dulu di level mana pekerjaan yang akan lo lamar ini.

*Gimana caranya mengetahui pasaran gaji untuk pekerjaan yang akan gue
lamar?*

Untuk urusan ini memang rada sulit. Kalo kebetulan lo punya temen yang kerja
di industri yang sama, lo mungkin bisa nanya2 sama dia – walaupun pastinya
nggak semua orang mau jawab saat ditanya gajinya. Gue salah satunya, sampe
detik ini cuma ada satu temen gue yang tau persis gaji gue berapa. Selain
itu lo juga bisa ikutan milis2 HRD – kadang di sana suka ada sharing
mengenai standar gaji.

*Tahap-tahap negosiasi gaji*

1. *Pengisian formulir lamaran
*Ya, proses negosiasi gaji dimulai saat lo mengisi formulir lamaran
pekerjaan. Biasanya di formulir tersebut ada isian tentang besar gaji yang
diinginkan. Make sure lo isi kolom tersebut dengan jumlah yang lo inginkan,
tentunya dengan mempertimbangkan faktor kemampuan diri sendiri dan faktor
standar perusahaan. Tambah jumlah tersebut dengan 20-30% untuk memberikan
ruang just in case ditawar. *Jangan*, jangan pernah mengosongkan
bagian ini, atau mengisinya dengan kata2 basi *”mengikuti standar
perusahaan”* atau *”terserah perusahaan”* . Waktu gue masih di HRD,
kalo nemu pelamar yang ngisi begini suka gue tanya balik, “bener nih gajinya
terserah? Dibayar ceban mau?” Oh ya, biar nggak salah paham, tulis jumlah
gaji yang lo inginkan itu dalam satuan p.a. (per annuum alias per
tahun). Soalnya, ada perusahaan yang menggaji karyawannya secara standar
yaitu 12 bulan gaji plus 1 bulan THR, sementara ada juga perusahaan yang per
tahunnya bisa belasan hingga puluhan kali gaji yang dibayarkan dalam bentuk
bonus ini – itu.
2. *Wawancara pertama
*Biasanya di tahap ini suka muncul pertanyaan tentang jumlah gaji yang
lo tulis di formulir. Pertanyaan yang umum muncul adalah, “Jumlah ini
*negotiable* nggak?” Karena tadi jumlahnya udah lo tambah, tentu aja
lo jawab dengan “ya”. Pertanyaan lain yang sering muncul adalah “Kenapa
Anda minta gaji sekian?” Nah, yang ini perlu dijawab dengan jurus khusus.
Jangan pernah speechless saat ditanya begini, karena akan melemahkan
posisi tawar lo di tahap selanjutnya. Lo akan terlihat asal2an dan nggak
ngerti pasaran saat meminta gaji. Jawaban paling bijak adalah, “Karena nilai
itu sesuai dengan kualifikasi yang saya miliki sekarang”. Oh ya, saat
mengucapkan kalimat itu usahakan intonasi tetap datar dan terkendali, jangan
terkesan jumawa sehingga bikin petugas recruitment serasa ingin noyor kepala
lo.
Udah, sampe sebatas dua pertanyaan itu aja yang perlu lo jawab di
tahap ini. Sebagaimana pernah gue bahas di
sini<http://mbot. multiply. com/journal/ item/274
<http://mbot. multiply. com/journal/ item/274>>,
jangan mau kalo si petugas berusaha menawar permintaan gaji lo ke titik
final di tahap ini. Masih terlalu dini untuk negosiasi gaji, sehingga jawab
aja dengan “Biar lebih jelas, mungkin Anda bisa ceritakan dulu paket
remunerasi lengkap yang berlaku di perusahaan ini, sebagai bahan
pertimbangan saya?” Kalo si petugas recruitment waras dia juga belum mau
membeberkan paket remunerasi lengkap di wawancara awal sehingga posisi
menjadi case-closed, sama-sama paham belum waktunya untuk bernegosiasi gaji.
Atau bila ternyata dia langsung blak2an membuka paket remunerasi lengkap
yang ditawarkan, artinya wawancara awal ini sekaligus wawancara final – lo
diminta memutuskan akan join atau enggak di tahap itu.
3. *Proses negosiasi gaji
*Setelah rangkaian proses recruitment selesai dan lo berhasil lolos
dari semua saringan, lo akan dipanggil sekali lagi untuk menegosiasikan
gaji. Sebaiknya lo datang ke tahap ini dengan berbekal informasi, berapa
jumlah saingan lo. Kalo ternyata cuma elo sendiri yang lolos, maka posisi
tawar lo akan lebih kuat.
Biasanya di tahap ini, petugas akan mulai dengan menceritakan seluruh
paket remunerasi lengkap yang ditawarkan – mulai dari gaji hingga
tunjangan2. Catet semuanya, jangan cuma dihafal karena biasanya komponennya
cukup ribet. Perhatikan komponen tunjangan kesehatannya gimana?
Penggantiannya berapa persen dari tagihan dokter? Berapa jumlah per tahun?
Kalo rawat inap dapat kamar kelas berapa? Things like that. Pastikan lo
dapet penjelasan yang selengkap mungkin.
Setelah petugas menjelaskan, biasanya dia akan nanya, “Bagaimana,
apakah paket kami sudah sesuai dengan ekspektasi Anda?” Kalo jumlahnya lebih
besar dari ekspektasi lo ya case-closed, lo tinggal tanda tangan kontrak
kerja. Tapi kalo belum, ya inilah saatnya lo bernegosiasi, tentunya dengan
ekspresi yang terkendali dan tidak bikin orang serasa ingin noyor kepala lo,
misalnya dengan bilang “Sebenarnya ekspektasi saya lebih besar dari jumlah
ini, yaitu sekian rupiah (atau dollar – *if you’re one lucky bastard*)
per tahun.” Kemukakan juga alasan lo, yaitu balik ke harga pasaran
kualifikasi yang lo punya plus mengacu juga ke gaji yang lo terima di
perusahaan sekarang (kalo elo udah kerja). Kalo lo mau jual mahal bisa
bilang dengan “Saat ini saya merasa tidak ada masalah dengan pekerjaan yang
sekarang, tentunya saya butuh ‘motivasi’ yang lebih besar untuk berkarir di
tempat lain.”
Ada dua kemungkinan yang akan dilakukan petugas saat mendengar jawaban
lo (a) berkata, “sayang sekali, ini final offer dari kami”. atau (b) “mohon
tunggu sebentar, akan saya konsultasikan dengan atasan saya dulu”. Apapun
yang terjadi, hari itu biasanya lo akan mendapat penawaran final dari
perusahaan. Kalo ternyata penawaran finalnya tetep belum memenuhi harapan
lo, JANGAN langsung menolak saat itu juga. Kesannya lo mata duitan banget
(walaupun mungkin memang iya) dan hanya tertarik untuk bergabung karena
faktor penghasilan. Entah kenapa, hari gini masih banyak aja boss2 di
perusahaan besar yang berharap orang bergabung di perusahaannya “bukan
semata-mata nyari duit” sehingga langsung bete pada kandidat2 yang secara
jujur mengakui motivasi kerjanya adalah uang. Lantas kalo bukan karena nyari
duit, buat apa dong orang ngelamar kerja? Kelebihan energi?
Anyway, JANGAN langsung menolak penawaran yang kurang memuaskan itu,
dan bilang, “Baik kalau begitu akan saya pertimbangkan dulu di rumah. Boleh
saya hubungi Anda lagi besok via telepon?”
Dengan mengulur waktu seperti ini, lo menghindarkan diri lo sendiri
dari keputusan impulsif yang mungkin akan lo sesali.
4. *Pasca negosiasi gaji
*Besokannya, hubungi lagi petugas yang temui kemarin tepat waktu
sesuai janji, dan sampaikan keputusan lo. Kalo lo memutuskan untuk batal
bergabung, tetep jaga sopan santun dengan bilang “Mohon maaf, setelah saya
pikirkan masak2, saya memutuskan untuk tetap di perusahaan saya yang
sekarang dulu”. Nggak perlu belagu, lo nggak akan tau kapan lo harus
berhadapan dengan si petugas itu lagi. Siapa tau saat ini lo merasa udah
nggak butuh lagi dengan dia, eh taunya kapan2 lo ngelamar di tempat lain dan
ketemu dia lagi. Biasanya para petugas HRD punya ingatan gajah lho. Jangan
lupa bilang terima kasih atas segala effortnya mengurusi proses lamaran lo.

Ok, segitu dulu tips negosiasi gaji dari gue, semoga cukup jelas dan
membantu.

*Tulisan Di Kutip Dari ” http://mbot. multiply. com/tag/hrd
<http://mbot. multiply. com/tag/hrd> “*

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Negoisasi Gaji”

RSS Feed for Explorer To The World Comments RSS Feed

artikelnya seep mas
ehm…..kalo menurut ku sich standart gaji tu disesuakain ama kinerjanya kalo si user tu gak bisa apa2 minta gji tinggi kan nggak mungkin
sebaliknya kalo si user bener2 expert di bidang yang dia kerjakan why not dia minta gaji yang gede…..
thanks mas…
salam kenal….

regards
aku tukangsapu


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: